Obrienta, beliau yang selalu jelek di mata istri, anak bahkan keluarga besarnya kini sudah tenang di sisi Allaah. Tak merasakan sakit hati, kesendirian, tak raskaan sakit yang menusuk di dada dan lambung, tak seperti pengemis lagi meminta minta uang bulanan tak seberapa untuk sesuap nasi.
Baginya di rumah ada beras dan kecap aja sudah alhamdulillah. Ya Allaah... menuliskan ini aku menangis.
Dia yang dulu kaya berkecukupan , semua diambil Allaah. Tak ada harta apa pun. Rumah, mobil, ga ungan, sepeda motor, semua tak ada.hanya baju. Bahkan perabotannya pun dia jual.
Entah ujian Allaah untuk menebus dosa ya di masa lalu, atau apa, aku gak tau. Hanya Allaah yang tahu
Beberapa hari sebelum meninggal dia berkata bhawa dia ingin pulang. Dia ingin berobat. Karna saudaranya tak ada yang percaya dan tak peduli padanya. Kukatakan kalo dia pulang, ntr dari rumah sakit mau kemana? Sementara istri dan anak sudah tak peduli. Mending dj sini ada sodara. Dan dia pun terdiam.
Akhir akhir ini dia yang sudah tak gampang lagi tersinggung dan marah, yang sudah berusaha menjaga lisannya untuk tidak menceritakan orang lain atau apa pun, kini sudah berada di sebaik tempat di sisi allaah.insyaallaah. allahumma amiin.
Dia meninggal di masjid, setelah bercengkrama dengan jamaah masjid sambil menunggu waktu isya tiba,. Tak lama adzan berkumandang ,dia merasakan sakit unntuk keluarkan sendawa yang tak kunjung keluar beberapa hari ini.
Wajahnya tersenyum. Bibirnya nampak seperti tersenyum. Tanpa rasasakit . Tapi wajah orang tersenyum.
Akhir hiduo yang indah saat mau beribadah di rumah allaah lagi. Insyaallaah husnul khatimah ya obrienta.aamiin yra.
Allaahumma firlahu warhamhu waafihi wafuanhu.
Alfatiha utk obrienta.