Sabtu, 30 April 2016

Seorang Ibu Kepada Anaknya

Saat makan siang, seorang ibu dengan berselendang mendatangi ruang konsumsi di mana semua guru berkumpul makan bersama. Ibu itu mendatangi guru anaknya sambil marah marah sebab sudah 3 kali kacamata anaknya patah. Dan kali ini dia minta ganti ke  orangtua anaknya yang telah mematahkan kacamata itu.

Berbagai kata amarah dia sampaikan. Mengatakan mau mati saja menemui almarhum bapak anaknya yang baru saja meninggal saking tak tahan lagi dan menyuruh pulang anaknya dan tak usah ikut lomba. Sampai para ustadz membujuk sang ibu bahwa itu hal sepele. Namanya anak anak dimaklumi saja dan tetap diberi nasihat. Sang ibu mengatakan di rumah anaknya sering kena marah dengan dilibas dengan pemukul kasur yang terbuat dari rotan. Sang anak menangis sedih.


Guru sang anak membujuk dan berjanji akan membawa kacamata yang rusak ke toko kacamata. Dan akhirnya esok hari sang anak ikut lomba dang ibu mrnunggui hingga sore.

Namun sedihnya saaat diumumkan pemenang dan nama anaknya tak keluar serta merta sang ibu marah pada anak dan mengajak anaknya pulang.


Miris melihat anak yang tak dihargai seperti itu. Nampak rasa sedih di raut wajah sang anak. Dan dengan gontai dia mengikuti ibunya dari belakang.



Rabu, 27 April 2016

Mencoba Menulis Kembali

Saya sangat mencintai dunia menulis. Sebab saya merasa hidup. Dan menulis hal hal yang bisa membangkitkan semangat saya. Bukan menuliskan hal sedih. Saya ingin menulis kisah inspiratif dan hal hal yang menjadi motivasi dan berita positif bagi banyak orang. Buka  yang negatif.


Salah seorang teman memberikan info lomba ke saya. Dia percaya saya pasti suka. Lomba menulis.

Saya paksakan diri menulis artikel 3 halaman dengan merancangnya selama 3 hari. Itu juga tiap hari hanya saja. Lalu saya ganti lagi.

Hingga sudah melewati deadline saya selesaikan juga tulisan saya.

Parahnya saya pakai internet  ditempat kerja  namun saya lupa pasword kedua imel saya. Kedua imel saya lupa paswordnya!

Akhirnya saya telpon panitia agar masih diizinkan mengirim naskah tulisan berupa hardcopi. Bukan soft copi sebab saya lupa paswordnya.


Alhamdulillaah... sudah saya antar.walau sebenarnya masih perlu revisi tapi sudahlah. Saya saya melewati batas pengiriman. Rival saya dalam lomba adalah para penulis yang setiap pekan mengisi beberapa pengajian. Beda dengan saya yang gak pernah mengisi pengajian sejak 2 tahun ini. Dan organisasi yang mereka ikuti sehingga tentu menambah bahan tulisan mereka.


Ah tak mengapa... yang penting saya mencoba. Dan tulisan saya berbahasa EYD yang saya campur dengan gaya saya berbahasa. Sebab saya ingin memiliki tulisan yang memiliki ciri kekhasan saya. Artikel ringan dan sederhana agar gampang diterima orang ide dalam tulisan itu.

Sebab kita tak akan pernah tahu kekurangan kita dalam menulis , apakah tulisan saya berkenan atau tidak kalau tidak dibaca orang banyak dan disukai idenya.

Bismillah saja lah ya... menunggu tanggal 1 Mei. Apa pun hasilnya saya terima yang penting saya mencoba. Dan ini yang pertama  sebab yang lain selalu tak siap dan tak dikirim naskahnya dan mengendap di leptop saya.


Jumat, 15 April 2016

Bersama Fudhail dan Faruq

Lagi lagi... hari ini fudhail mengulah. Anak itu seperti kesurupan yang dibuat buat . Sontak saja teman temannya pada bertanya "Ada apa dengan Fudhail, Mi? "

Beberapa diantaranya mendekati Fudhail dan memukulnya. Bahkan semalam dua orang temannya Althaf dan Ezy membacakan surah al insyirah dan semua juz 30 hafalan mereka di kelas. Ada yang mengatakan dia gila. Maka Fudhail pun mengejar teman temannya dan memukul mereka, mencampakkan semua benda benda di kelas ke lantai. Jelas saja teman temannya marah.


Aku tak tahu harus bagaimana lagi. Anak itu tidak bisa dikasari atau dimarahi walau dia salah. Akhirnya kupeluk dia dan kuusap dadanya dan mengajaknya berdzikir mohon kesabaran pada Allaah dan ber istighfar. Aku dipukulnya. Dan tadi, kubisikkan kata bahwa aku memahaminya. Kuminta teman temannya agar tidak mendekatinya sebab dia sedang "bad mood". Teman temannya tak faham arti bad mood. Aku katakan perasaan yang sedang tak enak dan galau. Ku pangku dia sambil mengajar di depan kelas. Ini hal yang aneh. Seumur umur jado guru kok seperti mengajar anak TK. Dengan aku memeluknya dan mrmangkunya teman temannya terdiam.


Di hari yang samaa lagi lagi anak yang lain berulah. Faruq disenggol Nabil yag badannya besar. Sekuat tenaga Faruq hendak mencakar dan mrnggigit Nabil. Sangat kukhawatirkan hal itu terjadi. Terlebih Nabil yang punya tenaga lebih kuat dari Faruq. Tapi hari ini Nabil tak ingin mrmbalas. Anak itu aku suruh mrnjauh. Dan aku jatuh terduduk di lantai mrnimpa kaki Althaf yang ada di belakangku. Faruq memukuli kakiku karena dia marah aku menahan dia untuk tak menggigit dan mencakar Nabil. Aku berusaha sabar. Kupeluk dia dan kubisikkan bahwa mamanya di rumah pasti sedih jika anaknya bertengkar dengan teman. Dia malah merajuk dan bersandar di kakiku bahwa aku tak boleh ke mana mana. Dia marah padaku.


Jam mengajarku terbuang untuk menangani anak anak yang berprilaku aneh dengan gurunya. Aku juga lelah.  Setahuku di mana mana murid itu patuh dan taat pada guru. Bukan seperti itu kelakuannya. Sebab aku dahulu dnrgan guruku juga tak pernah brgitu. Bahkan di tempat mrngajar yang lama 10 tahun lamanya tak ada siswa yang berani memukul dan marah marah pada gurunya.


Aneh kurasa... apa aku tak becus jadi guru atau bagaimana ya..?



Aku jadi introspeksi diri. Salahnya di mana? Apa aku terlalu lembut mengajar atau terlalu keras mengajar atau terlalu kaku atau bagaimana? Anak anak itu juga sangat suka duduk dipangkuanku rhingga aku tak bisa bergerak. Merajuk atau ngambek padaku juga lebih sering.

Kenapa bisa begitu? siswaku di srkolah yang lama tak ada yang begitu. Cukup kusebut namanya 3 x maka siswa didikku yang dulu langsung duduk tertib di banhkunya masing masing.


Malahan 2 hari lalu Althaf mencakar pipi Ezy karena Ezy menampar wajah dan matanya hanya karena Althag mengganggu Dafa dan Ezy berteriak marah langsung menampar Althaf kuat kuat. Kunasihati kedua anak itu. Ibu mereka jelas marah saat tahu kondisi anaknya dengan menelponku saat aku baru sampai di rumah. Tolong lebih ektrak menjaga anak anak. Begitu pesannya. MasyaAllaah...


apa yang salah dengan kelasku yang sekarang?





Malam ini aku masih merenung. Apa yang salah dengan metodeku mengajar?  Sangat menguras energiku hingga bangun tidur masih berasa letih. Menghadapi Senin sampai Kamis adalah beban bagiku. Namun saat Jumat dan Sabtu tiba aku bahagia sebab akan mrnjumpainhati Minggu untuk berlibur.


Maafkan aku murid muridku jika hal ini kurasakan bukan tak sayang. Tapi aku gak sanggup....