Rabu, 22 Februari 2017

Saat Mual Morning Sick Itu Hilang

Alhamdulillaah saya sudah bisa beradaptasi dengan perasaan sensitif dengan berkurangnya morning sick alias mual muntah di trisemester I ini. Emosi juga sudah mulai terkontrol dan tidak gampang tersinggung atau marah marah dengan suami dan anak saya yang usia 12 tahun. Kelas 1 SMP. Anak bawaan suami. Ibunya meninggalkan suami dan anaknya. Entahlah.. apa sebabnya. Kalau tak salah saat suami "tak menjabat lagi". Dan setelah saya mencaritahu sendiri tentang mantannya dengan melihat status instagram facebook dan twitternya, saya hanya bisa menilai dari luar karena apa yang dituliskan seseorang, apa yang dishare seseorang adalah gambaran diri ya.  cukuplah saya dan Allaah yang tahu. Suami saya juga tak mau membahasnya. Suami lebih sering menyalahkan diri sendiri dan tak ada sedikit pun menceritakan keburukan mantannya.

Saya berusaha menyayanginya seperti anak saya dan daya berusaha mencintai suami saya dan menerimanya apa adanya karena niat saya menikah dengannya karena Allaah. Kami tak saling mengenal. Jumpa baru 2 x dan yang ke 3 sudah dipelaminan. Karena saya percaya pada Allaah. Jika kita perempuan baik baik maka Allaah akan berikan  kita lelaki yang baik baik pula. QS: An nuur : 26.


Saat ini hamil pekan ke 12. Pekan depan sudah bulan ke 4 kehamilan saya.

Saya tak bekerja. Pekerjaan saya sebagai guru daya tinggalkan dengan harapan saya dan janin bisa sehat sehat saja dan bisa mengurus suami dan anak kami yang sudah SMP itu.   Mengingat usia saya sudah 37 tahu  dan kata ilmu medis usia yang rawan untuk melahirkan. Jadi harus dijaga. Dan saya menyadari fisik saya yang memang gampang sakit jika kelelahan. Di sini profesi guru bekerja mulai pagi hingga petang jam 16.30. Kapan saya bisa mengurus rumah dan keluarga?Lah saya sendiri juga perlu rehat.

Dunia baru yang saya jalani ini ternyata beda saat saya masih single dan gadis.


Saya tidak menghasilkan uang. Hanya bergantung dari oenghasilan suami. Rasanya gak enak. Karena kita terbjasa mencari. Mau pakai uang juga hati hati. Karena kebutuhan lain juga banyak. Dan saya harus menabung.

Tapi belum ketemu ide. Hanya acak. Kepingin jual baju online, kepingin buka toko perlengkapan muslim, kepingin buka TK karena saya punya pengalaman. Bahkan kemarin kepingin buka usaha kuliner. Aahh.. banyaknya keinginan saya. Belum satu pun terealisasi.


Hidup sederhana. Suami saya dulu pejabat pemerintahan tingkat kabupaten. Sebenarnya semenjak tamat kuliah beliau juga sudah menjabat. Menjadi lurah, camat hingga kepala dinas. Tapi saya heran kok bisa sesederhana begini? Iya.. kami hidup sederhana. Motor bebek yang sudah expired plat motornya, STNK dan BpKB juga entah ke mana. rumah yang masih menyewa dan peralatan dapur yang dominan saya bawa dari rumah ibu saya. Kok bisa siiih???

Tapi sudahlah.aku juga bukan wanita yang silau uang dan jabatan. Aku menikah karena Allaah. Keyakinanku pada Allaah. Walau baru beberapa bulan aku dan suamiku sudah berapa kali berselisih faham.


Dia memang pria sederhana. Beda dengan keluarga besarnya yang rata rata menjabat dan hidup berkecukupan. Mobil minimal 2. Investasi juga banyak.  Keluarga pejabat mereka sepertinya. Almarhum mertua sepertinya berasal dari keluarga menjabat semua. Saya tahu dari adik ipar yang tak sengaja dia bercerita banyak. Tapi suamiku ini sederhana. Tak pernah bercerita tentang keluarganya kecuali aku yang mencaritahu. Aku pernah dinasehati agar jangan gila dengan jabatan. Karena banyak pejabat yang dibuikan disaat ini. Jangan memakan uang haram. Brgitu katanya. Ikut proyek aja dia takut. Takut krna masalah dikemudian harinya.

Entahlah suamiku.. kamu yang tahu tentang dunia kerjamu. Aku hanya berpesan profesionallah dalam profesimu.

Dan aku... agar bisa profesional juga sebagai istri dan ibu. Dan aku kepingin profesional untuk suatu bidang usaha walau aku belum menemukan n ide untuk itu.  Smoga bisa.ada ide kelak dan terealisasi. Agar aku bisa menjadi berdaya guna dan berharga bagi keluarga dan umat.


Kamis, 09 Februari 2017

Bumil

Sekarang baru saya sadari betapa pengorbanan ibu itu luar biasa. Pantaslah jika ada peparah mengatakan syurga itu ada di bawah telapak kaki ibu. Bahkan dalam hadist, rasulullah sampai mengatakan ibumu sampai 4 kali dalam 5 pertanyaan yang dilontarkan salah seorang sahabatnya perihal ketaatan pada orangtua. Ayah atau ibu. Bahka  seorang lelaki pun jika sudah menikah maka dia tetap menomorsatukan ibunya. MasyaAllaah...


Saya sendiri baru merasakan perubahan dalam diri saya. Menikah diusia hampir 40 tahun. Tepatnya 37 tahun. Usia yang kata orang rawan untuk punya anak. Maka harus hati hati. Dan memang benar! Banyak bagian tubuh saya yang melemah. Punggung saya yang sering sakit jika mengangkat belanjaan yang berat. Bahkan mencuci atau menyetrika saja pun saya berasa sesak nafas. Belum lagi keluhan gusi yang bengkak. Untungnya suami mau membantu mencuci. Dan kemana mana saya selalu diantar walau kadang saya juga harus berani sendiri jika hendak kep asar misalnya. Tanpa mengharapkan suami. Dan mengangkat belanjaan yang berat berat itu hingga sakit pinggang saya. Belum lagi keluhan mual dan pusing. Bahkan muntah. Ini masih jalan 3 bulan. Gimana kalau hamilnya makin besar ya?dan gimana membesarkan anak ya?  

Saya jadi terbayang wajah ibu saya tersayang yang pasti saya pernah melukai hatinya. Maafkan aku ibu.. jika kubayangkan beratnya dirimu mengandung diriku hingga 9 bulan lebih dalam keadaan susah payah dan membiayai hidupku.


Herannya saat hamil brgini saya vampangs ekali marah dan sentimen. Duuuh..  saya gak mau anaknya pemarah ta Rabb.. karena ibu hamil tensinya bisa naik begitu juga emosinya.


Saat ini saya sedang berikhtiar memperbaiki diri menjadi sholeha agar anak didalam kandungan saya kelak menjadi anak yang sholeh/ sholehah.


Sering saya juga terpaku. Begini ya yang bakal jadi ibu? Yang hamil yang musti jaga kesehatan demi janin dalam kandungannya?Agak merasa aneh saya. Kadang saya merasa asing antara senang dan tak senang . Harusnya saya senang dan bahagiaa. Janga  mikirin beratnya mengandung dengan keluhan pada fisik. Duh Allaah.. orang lain aja sanggup anaknya sampe kesebelasan. Lah saya baru satu kok begini...? Ayo.. bahagiakan diri dan siapkan diri jadi ibu yang sholeh dan sehat demi anak yang sholeh/ sholeha dan sehat pula. Cerdaskan diri dengan banyak membaca dan menulis! Jangan sibuk dengan kerjaan rumah yang gak selesai selesai.


semangat my self!
#motivasidiri