Sabtu, 28 Mei 2016

Capenya Yang Mengejar Target

Cape juga jika hidup ini kurang dinikmati sebab mengejar target kerja terus. Sampai lupa akan diri dan keluarga. Tapi apalah nak dikata.

Sebagai seorang guru di sekolah baru aku merasa harus mengepres murid murid. Di press! Dijejali. Ya hafalan quran, ya matematika,ya kosa kata bahasa Inggris dan semua pelajaran. Bukan muridnya saja yang dpress buat ujian tapi gurunya juga dipress untuk mengikuti ujian. Di saat sibuk mengkoreksi nilai ujian dan meremedi siswa tapi guru juga harus hafal Al quran sesuai tuntutan sekolah dan cakap mengajar berbahasa Inggris. Sementara para murid nampak kelelahan. Tapi mereka harus dipress melalui sekolah dan orangtuanya.



Letih... letih... rasa tak ada waktu untuk rehat.

Tapi di sini sudah mulai terbiasa untuk berlaku gak baper dan gak dibaperin segala komplen ini itu. Maju tetus ah.. kerjakan saja. Tapi lisan harus dijaga jangan berkicau dengan banyak pertanyaan.


# duniabaru.

Kamis, 26 Mei 2016

Suami Istri dan anak anak mereka

Saya kagum jika ada suami yang saat dia marah atau tak suka sekali pun tapi tutur katanya jenaka tak melukai perasaan.


Saya baru menjenguk shahabat baik saya yang baru saja operasi. Namun saat saya datang dia selalu bertelepon hingga 20 menit lamanya. Saya duduk manis menunggunya selesai berbicara sampai sampai suaminya berkata bahwa semalam 15 menit sebelum dioperasi sahabat saya itu masih menyempatkan diri menelpon sana sini. Kebetulan sang istri salah satu kepala bagian BPJS di kota kami. Entah siapa saja yang ditelepon termasuk urusan kerjanya. Sampai sampai suaminya mengajak saya ngobrol tentang umroh saya yang tak jadi. Heran.. kok suaminya tahu? Padahal saya tak ada memberi tahu. Tapi begitulah suami istri selalu sharing tentang apa pun. Suaminya jg mengatakan bahwa jika hendak umroh carilah travel yang resmi. Jangana tergiur dengan harga murah.

suaminya mrngatakan bahwa sebenarnya gak dioperasi juga hak apa apa. Taki khawatir saja kalau nanti di bulan 8 atau 9 ada krndala saat mereka akan berhaji.

Lantas di situ anak anak mereka sedang makan. Anaknya yang paliang kecil berusia hampir 7 tahun. Wajahnya ganteng . Wajar ya.. sebab buyah dan uminya ganteng dan cantik. Tapi badannya gendutt dut dut.  Saat anaknya makan, sang suami tak hendak memarahi anaknY. Hanya menasihati. Biasanya para orangtua marah jika anaknya kelwat banyak makan dan badannya overweight kan..?


"Insyaallaah si Faruq ini makan udah yang ke empat kalinya. Lehernya pun sampe gak nampak lagi. "

Anaknya malah mrnjawab "ya gak apa apa. Nanti badannya juga makin besar." Kata anaknya sambil mrnghabiskan semangkuk soto medan.


ya.. yang saya tahu memang keduanya selalu menggunakan bahasa santun sekali pun mereka mrah marahan. Jenaka bagi kita tpi cukup menohok.


Bagusan begitu ya... saya suka suasana begitu. 

Kamis, 19 Mei 2016

Ide Menulis Itu Hilang- hilang Timbul

Malam ini aku sedang mencoba menyelesaikan tulisan sederhanaku untu suatu kegiatan. Namun saat aku hampiri blog yang aku ikuti kok aku jadi melihat model pakaian yang dikenakan disainernya ya... model pakaiannya cakep cakep. tidak membentuk tubuh dan stylish..

Saya suka dengan model pakaiannya.






Selasa, 17 Mei 2016

Dua Orang Yang Baik tapi Mengapa Pernikahan Tidak Berakhir Bahagia?

Dua orang baik tapi mengapa perkawinan tidak berakhir bahagia?
Ibu saya adalah seorang yang sangat baik, sejak kecil, saya melihatnya begitu gigih menjaga keutuhan keluarga. Ia selalu bangun dini hari, memasak bubur yang panas untuk ayah, karena lambung ayah tidak baik....., pagi hari ayah hanya bisa makan bubur.
Setelah itu, masih harus memasak sepanci nasi untuk anak-anak, karena anak-anak sedang dalam masa pertumbuhan, perlu makan nasi....., dengan begitu baru tidak akan lapar seharian di sekolah.
Setiap sore, ibu selalu membungkukkan badan menyikat panci. Setiap panci di rumah kami bisa dijadikan cermin, tidak ada noda sedikitpun.
Menjelang malam, dengan giat ibu membersihkan lantai, mengepel seinci demi seinci, lantai di rumah tampak lebih bersih dibanding sisi rumah orang lain, tiada debu sedikit pun meski berjalan dengan kaki telanjang.
Ibu saya adalah seorang wanita yang sangat rajin. Namun, di mata ayahku, Ia (ibu) bukan pasangan yang baik. Dalam proses pertumbuhan saya, tidak hanya sekali saja ayah selalu menyatakan kesepiannya dalam perkawinan, saya tidak pernah memahaminya.
Ayah saya adalah seorang laki-laki yang bertanggung jawab. Ia tidak merokok, tidak minum-minuman keras, serius dalam pekerjaan, setiap hari berangkat kerja tepat waktu, bahkan saat libur juga masih mengatur jadwal sekolah anak-anak, mengatur waktu istirahat anak-anak....., Ia adalah seorang ayah yang penuh tanggung jawab, mendorong anak-anak untuk berprestasi dalam pelajaran.
Ia suka main catur, suka larut dalam dunia buku-buku kuno. Ayah saya adalah seorang laki-laki yang baik, di mata anak-anak, ia maha besar seperti langit, menjaga kami, melindungi kami dan mendidik kami.
Hanya saja, di mata ibuku, Ia juga bukan seorang pasangan yang baik, dalam proses pertumbuhan saya, kerap kali saya melihat ibu menangis terisak secara diam diam di sudut halaman. Ayah menyatakannya dengan kata-kata, sedang ibu dengan aksi, menyatakan kepedihan yang dijalani dalam perkawinan.
Dalam proses pertumbuhan, aku melihat juga mendengar ketidakberdayaan dalam perkawinan ayah dan ibu, sekaligus merasakan betapa baiknya mereka, dan mereka layak mendapatkan sebuah perkawinan yang baik.
Sayangnya, dalam masa-masa keberadaan ayah di dunia, kehidupan perkawinan mereka lalui dalam kegagalan, sedangkan aku, juga tumbuh dalam kebingungan, dan aku bertanya pada diriku sendiri, "Dua orang yang baik mengapa tidak diiringi dengan perkawinan yang bahagia?"
PENGORBANAN YANG DIANGGAP BENAR
Setelah dewasa, saya akhirnya memasuki usia perkawinan, dan secara perlahan-lahan saya pun mengetahui akan jawaban ini.
Di masa awal perkawinan, saya juga sama seperti ibu, berusaha menjaga keutuhan keluarga, menyikat panci dan membersihkan lantai, dengan sungguh-sungguh berusaha memelihara perkawinan sendiri.
Anehnya, saya tidak merasa bahagia ; dan suamiku sendiri, sepertinya juga tidak bahagia. Saya merenung, mungkin lantai kurang bersih, masakan tidak enak, lalu, dengan giat saya membersihkan lantai lagi, dan memasak dengan sepenuh hati.
Namun, rasanya, kami berdua tetap saja tidak bahagia..... Hingga suatu hari, ketika saya sedang sibuk membersihkan lantai, suami saya berkata, "Istriku, temani aku sejenak mendengar alunan musik!" Dengan mimik tidak senang saya berkata, "Apa tidak melihat masih ada separoh lantai lagi yang belum dipel?"
Begitu kata-kata ini terlontar, saya pun termenung, kata-kata yang sangat tidak asing di telinga, dalam perkawinan ayah dan ibu saya, ibu juga kerap berkata begitu sama ayah. Saya sedang mempertunjukkan kembali perkawinan ayah dan ibu, sekaligus mengulang kembali ketidakbahagiaan dalam perkwinan mereka. Ada beberapa kesadaran muncul dalam hati saya.
YANG KAMU INGINKAN?
Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu memandang suamiku, dan teringat akan ayah saya..... Ia selalu tidak mendapatkan pasangan yang dia inginkan dalam perkawinannya.
Waktu ibu menyikat panci lebih lama daripada menemaninya. Terus menerus mengerjakan urusan rumah tangga, adalah cara ibu dalam mempertahankan perkawinan, Ia memberi ayah sebuah rumah yang bersih, namun, ibu jarang menemani ayah, ibu sibuk mengurus rumah, Ia berusaha mencintai ayah dengan caranya, dan cara ini adalah mengerjakan urusan rumah tangga.
Dan aku, aku juga menggunakan caraku berusaha mencintai suamiku. Cara saya juga sama seperti ibu, perkawinan saya sepertinya tengah melangkah ke dalam sebuah cerita, "Dua orang yang baik mengapa tidak diiringi dengan perkawinan yang bahagia."
KESADARAN MEMBUAT SAYA MEMBUAT KEPUTUSAN (PILIHAN) YANG SAMA
Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu duduk di sisi suami, menemaninya mendengar musik, dan dari kejauhan, saat memandangi kain pel di atas lantai seperti menatapi nasib ibu.
Saya bertanya pada suamiku, "Apa yang kau butuhkan?"
"Aku membutuhkanmu untuk menemaniku mendengar musik, rumah kotor sedikit tidak apa-apalah, nanti saya carikan pembantu untukmu, dengan begitu kau bisa menemaniku!", ujar suamiku.
Saya kira kamu perlu rumah yang bersih, ada yang memasak untukmu, ada yang mencuci pakaianmu.... dan saya mengatakan sekaligus serentetan hal-hal yang dibutuhkannya.
"Semua itu tidak penting-lah!", ujar suamiku.
"Yang paling kuharapkan adalah kau bisa lebih sering menemaniku."
Ternyata sia-sia semua pekerjaan yang saya lakukan, hasilnya benar-benar membuat saya terkejut. Kami meneruskan menikmati kebutuhan masing-masing, dan baru saya sadari ternyata dia juga telah banyak melakukan pekerjaan yang sia-sia, kami memiliki cara masing-masing bagaimana mencintai, namun, bukannya cara yang diinginkan pasangan kita.
JALAN KEBAHAGIAAN
Sejak itu, saya menderetkan sebuah daftar kebutuhan suami, dan meletakkanya di atas meja buku. Begitu juga dengan suamiku, dia juga menderetkan sebuah daftar kebutuhanku.
Puluhan kebutuhan yang panjang lebar dan jelas, seperti misalnya, waktu senggang menemani pihak kedua mendengar musik, saling memeluk kalau sempat, setiap pagi memberi sentuhan selamat jalan bila berangkat.
Beberapa hal cukup mudah dilaksanakan, tapi ada juga yang cukup sulit, misalnya dengarkan aku, jangan memberi komentar. Ini adalah kebutuhan suami. Kalau saya memberinya usul, dia bilang akan merasa dirinya akan tampak seperti orang bodoh. Menurutku, ini benar-benar masalah gengsi laki-laki.
Saya juga meniru suami tidak memberikan usul, kecuali dia bertanya pada saya, kalau tidak saya hanya boleh mendengar dengan serius, menurut sampai tuntas, demikian juga ketika salah jalan.
Bagi saya ini benar-benar sebuah jalan yang sulit dipelajari, namun, jauh lebih santai daripada mengepel, dan dalam kepuasan kebutuhan kami ini, perkawinan yang kami jalani juga kian hari semakin penuh daya hidup.
Saat saya lelah, saya memilih beberapa hal yang gampang dikerjakan, misalnya menyetel musik ringan, dan kalau lagi segar bugar merancang perjalanan keluar kota. Menariknya, pergi ke taman flora adalah hal bersama dan kebutuhan kami, setiap ada pertikaian, selalu pergi ke taman flora, dan selalu bisa menghibur gejolak hati masing-masing.
Sebenarnya, kami saling mengenal dan mencintai juga dikarenakan kesukaan kami pada taman flora, lalu bersama kita menapak ke tirai merah perkawinan, kembali ke taman bisa kembali ke dalam suasana hati yang saling mencintai bertahun-tahun silam.
Bertanya pada pasangan kita, "Apa yang kau inginkan?", kata-kata ini telah menghidupkan sebuah jalan kebahagiaan lain dalam perkawinan. Keduanya akhirnya melangkah ke jalan bahagia.
Kini, saya tahu kenapa perkawinan ayah ibu tidak bisa bahagia, MEREKA TERLALU BERSIKERAS MENGGUNAKAN CARA SENDIRI DALAM MENCINTAI PASANGANNYA, BUKAN MENCINTAI PASANGANNYA DENGAN CARA YANG DIINGINKAN PASANGAN KITA.
Diri sendiri lelahnya setengah mati, namun....., pihak kedua tidak dapat merasakannya, akhirnya ketika menghadapi penantian perkawinan, hati ini juga sudah kecewa dan hancur.
Karena Tuhan telah menciptakan perkawinan, maka menurut saya, SETIAP ORANG PANTAS DAN LAYAK MEMILIKI SEBUAH PERKAWINAN YANG BAHA
GIA, asalkan cara yang kita pakai itu tepat, menjadi orang yang dibutuhkan oleh pasangan kita! Bukannya memberi atas keinginan kita sendiri.....
Perkawinan yang baik, pasti dapat diharapkan.....
By: Reza Widyaprastha

Senin, 16 Mei 2016

Allaah Itu Dekat


Allaah berasa dekat dan sangat terasa kehadirannya dalam diri kita adalah pada saat lisan kita terus berdzikir menyebut asmaNya dalam suka atau duka.

Saat ibadah yaumiyah senantiasa lengket dihati kita agar segera ditunaikan dg khusyuk.

 Saat kita lebih mengutamakan akhirat dibanding duniawi kita.

Saat kita merasa dosa kita sangat menumpuk dan Allaah selalu menunjukkan dosa2 yang kita perbuat hingga kita tak tahu lagi dosa mana lagi yang mau dipinta untuk segera diampuni,

saat waktu sibuk kita masih diisi dg sabar dan sabar untuk segera menyelesaikan tugas2 kita dg baik.

 Saat amarah atau emosi bisa diredam dg memperbanyak diam dan istighfar.

Dan saat kita dapat menarik nafas dalam2 dengan selalu mensyukuri atas apa yang ada pada kita.

 Dan saat kita selalu berprasangka baik padaNya dan yakin akan kasih sayangNya.

#qoute

Minggu, 15 Mei 2016

Perjalanan Waktu

Sungguh ... aku gak bisa berkata apa apa. Melihat sesuatu yang aku amati. Harta itu titipan. Kaya itu juga titipan. Yang dulu gengsi dan nampak terhormat sekarang kok gitu? Gk ada lagi istilah gengsi gengsi an.


Hikmahnya mungkin adalah... dia memberi hikmah atas kesholehannya kepada orang yang gelap gulita kehidupannya menjadi terang benderang



sifat asli Sukar Hilang

Yap.. sifat asli itu sukar hilang!

Ceritanya, saya sudah menjauh dari orang yang saya merasa karakter buruknya itu mengganggu saya. Mending saya jauh dari dia daripada saya berdosa.


Saya ingat dahulu kala sekitar 10 tahun lalu saya meminta mangkoknya yang tak dipakai lagi. Bukan mangkok dia. Mangkok tempat dia bekerja yang memang tak dipakai lagi. Dia pernah bilang. Dan akan dijual atau diberikan ke yang butuh. Dahulu sudah saya sisihkan. Tapi malah diletakkan di gudang. Tapi sudahlah walau saya kecewa. Mangkok yang memang tak terpakai lagi.  Buat sekolah PAUD yang membutuhkan didekat rumah saya.  Waktu itu saya direpotkan dengan mengubek2 gudang yang berdebu. Sudah saya sisihkan yang lumayan  dan lmasih layak dipakai. EH.. Malahan saya dberi yang sudah berkarat dan gak layak pakai. Ya saya enggan untuk mengambilnya. Sebab tak layak pakai saya rasa. Dan masihbbanyak lagi hal tak berkenan. Tapi saya sudah lupakan. Tohbsaya juga sudah jauh darinya.

Kenyataannya.. bebrrapa hari lalu saya datang ke sebuah acara. Saya heran tikar kok bolong. Minjem dimana? Eh.. ternyata itu minjam dari orang yng dahulubpernah memberi saya barang tak layak pakai itu juga saya ngubek ngubek gudang yang penuh debu.

Setahu saya yang bersangkutan sudah membeli tikar yang banyak. Layak pakai. Kenapa tega memberikan yang bolong bolong?padahal hanya dipinjamkan 2 jjam saja.


MEMANG... sifat asli sulit hilang. Yang baik atau buruk. Saya senyum saja. Gak saya fikirin ah.. Toh bukan urusan saya. Lagian saya juga tak banyak berinteraksi dengan yang bersangkutan. Saya takut aja. Gak mau buat perkara. Kalau bisa dihindari ta dihindari.  Lagian sukur dikasih pinjam ya? Positif thinkingnya begitu saja.



Rabu, 04 Mei 2016

Soto Kudus

Saya suka masakan yang tak berlemak tapi gurih dan segar. Lihat resep soto berbagai daerah jadi pengen mencoba satu persatu resep di rumah.

Jadilah saya mencoba soto kudus. Resepnya mirip dengan soto medan. Bedanya aoto kudus gak pake daun bawang dan gak pake santan. Itu aja.

Bahan :
Ayam 1 ekor
ketumbar 3 sdm
jintan hitam 1 sdm
bawang merah  yang besar 8 siung
bawang putih yang besar 8 siung
kunyit 3cm
daun jeruk 1 lbr
sereh 3 batang di potong dan dikeprok
lengkuas
jahe dikeprok
tauge
cabe hijau 1 genggam ( direbus lalu digiling halus)
Seledri diiris iris
kemiri 4 butir sebagai penggurih
merica bubuk " ladaku" 2 bungkus.
Daun salam 6 lembar
garam secukupnya.
jeruk nipis
sohun mie halus direbus.
(Bawang goreng kalau ada)

Cara :
Kemiri dan jintan digongseng supaya harum. Laku diblender halus.
Campur dengan kemiri dan bawang lalu diblender halus. Tumis dengan minyak sayur dan masukkan garam,  sereh , daun salam dan lengkuas sampai harum. Masukkan ayam dan tumis supaya bumbu meresap ke ayam. Lalu jika  sudah matang pisahkan ayam. masukkan air secukupnya ke panci. Masak hingga mendidih.


ayam tadi digoreng hingga coklat kekuningan.

Siap disantap dengan nasi panas. Jangan lupa masukkan shoun dan peras jeruk nipis supaya sotonya berasa segar. Ditemani krupuk ubi jika suka. Atau emping.  Ayamnya disuwir suwir dan taburi diatas soto bersama toge yang sudah direbus. Beri cabe hijau yang sudah diulek.


#masakanku


Minggu, 01 Mei 2016

Alhamdulillaah Juara 2

Yap.. alhamdulillaah saya juara 2 lomba menulis lomba tingkat kecamatan.

Alhamdulillaah... jadi buat semangat untuk terus menulis dan mengirim tulisan. Sebab jurinya adalah orang yang selalu menulis kolom opini di salah satu surat kabar ternama di kota saya dan beberapa media cetak dan media elektronik lainnya.