Entahlah.. sepertinya ucapanku menyinggung perasaannya.
Berulang kali dia bertanya mengapa aku mau padanya?
Sebenarnya aku bekata demikian agar dia tahu bahwa aku serius mau menikah padanya karena Allaah. Aku merasa dia ada dalam doaku setelah penantian yang panjang.
Kupinta padanya agar tiap malam sebelum tidur kami bermuhasabah diri sambil memegang tangan satu sama lain dan terlelap tidur. Dia merasa aneh. Sehingga malam itu bisa jadi ada ucapanku yang salah dan terbawa pada sikapnya saat mau berangkatbkerja dan dia lama pulang ke rumah untuk makan siang. Sebab kantornya dekat dengan rumah kami.
Dia coba mengambil hatiku. Dia menggenggam tanganku dan mencium bibirku.
Dan ada ucapannya buat aku sedih. Walau dia ucapkan sambil tersenyum dan matanya nampak berkaca kaca.
Suamiku... maafkan aku jika tak sengaja melukai hatiku.
Berulang kali dia bertanya mengapa aku mau padanya?
Sebenarnya aku bekata demikian agar dia tahu bahwa aku serius mau menikah padanya karena Allaah. Aku merasa dia ada dalam doaku setelah penantian yang panjang.
Kupinta padanya agar tiap malam sebelum tidur kami bermuhasabah diri sambil memegang tangan satu sama lain dan terlelap tidur. Dia merasa aneh. Sehingga malam itu bisa jadi ada ucapanku yang salah dan terbawa pada sikapnya saat mau berangkatbkerja dan dia lama pulang ke rumah untuk makan siang. Sebab kantornya dekat dengan rumah kami.
Dia coba mengambil hatiku. Dia menggenggam tanganku dan mencium bibirku.
Dan ada ucapannya buat aku sedih. Walau dia ucapkan sambil tersenyum dan matanya nampak berkaca kaca.
Suamiku... maafkan aku jika tak sengaja melukai hatiku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar